Kajian Ekologi
1. Bagaimana bila air aqua ditambah O2 apakah bisa terserap dalam tubuh manusia.
2. Bagaimana CO2 bisa jadi sumber energi masa depan.
3. Bagaimana fitoplankton bisa mengikat CO2 di udara.
Telaahan jawaban :
1. Perlu dipahami bahwa oksigen adalah gas yang tak berwarna, tak berbau, tak berasa dan lazimnya sedikit sekali yang larut dalam air. Secara normal air yang bisa dimanfaatkan untuk proses kehidupan harus mengandung minimum 5 ppm oksigen terlarut dalam setiap liternya, selebihnya tergantung derajat keaktifan, kehadiran pencemar, suhu dan sebagainya. Laju konsumsi kelarutan oksigen dalam air maksimum tercapai pada tekanan 1 atm yaitu 21 % oksigen terlarut. ( A. Tresna Sastrawijaya,M.Sc, h.84 )
Dijelaskan semakin naik suhu, kelarutan oksigen dalam air makin rendah, sebagai perbandingan bisa dilihat dibawah ini :
| Suhu, dalam o C | Kelarutan, dalam ppm |
| 0 | 14,6 |
| 5 | 12,7 |
| 10 | 11,3 |
| 15 | 10,1 |
Dari analisa ini bila ada suatu produk air minum dengan propaganda ada penambahan oksigen, tentunya tak akan membahayakan konsumen karena kita bisa menyimpulkan kita bisa minum es dan itu bisa diserap tubuh, kenapa tidak dengan air aqua, namun bila diperlukan suatu penelitian secara biologi, biomedik dan biokimia bisa saja, tapi dengan analisa kami diatas sudah cukup untuk mengatakan aqua yang diberi tambahan oksigen aman dan bisa dikonsumsi. Tak percaya silakan coba.
2. Untuk memanfaatkan CO2 sebagai energi dimasa depan, itu perlu kajian lebih dalam mengenai keteraturan hubungan senyawa-snyawa yang ada dalam permukaan bumi ini. Dalam kondisi setimbang CO2 telah memberikan manfaat pada kita yaitu melalui energi thermal yang telah diabsorbsi pada daerah infra merah,sehingga iklim terasa hangat dan nyaman. Namun fakta untuk saat ini pembakaran bahan fosil seperti batubara dan minyak bumi memberikan banyak CO2 ke udara, sebaliknya hutan dan lingkungan hijau makin berkurang, dan ahirnya kemampuan fotosintesis juga makin berkurang. Akibatnya siklus karbon terganggu, pada saat ini hanya 50 % CO2 yang dihasilkan dapat diabsorbsi oleh lautan, akhirnya terjadilah penimbunan CO2 di udara dengan kecepatan 6 juta ton per tahun. Alam tidak mampu berlomba dan berpacu dalam maraton proses pembentukan CO2, sehingga makin menumpuklah CO2 diatas bumi ini.
Perlu kita ketahui CO2 menyerap energi itulah sebabnya suhu udara semakin naik, dan menurut perhitungan dalam waktu 500 tahun suhu akan meningkat 22 0C. Andaiakan kenaikan suhu itu separuhnya saja, maka sirkulasi udara, badai dan angin topan akan menyebabkan malapetaka di dunia ini, karena kenaikan suhu akan mencairkan es di kutub, permukaan laut akan naik, dan kawasan pantai banyak yang tenggelam. Itulah sebanya pengaruh CO2 ini sering dinamakan efek rumah kaca.
Dan untuk memanfaatkan CO2 sebagai energi masa depan, tentunya tidak lepas dari upaya menuju arah kesetimbangan alam, yang jelas CO2 nyata-nyata dibutuhkan oleh proses fotosintesis dimana salah satu senyawa utama yang dihasilkan adalah oksigen. Menurut logika sederhana aktifitas CO2 akan berhenti jika aktifitas manusia juga berhenti, namun tidak demikian, kita bisa mengurangi laju CO2 ini dengan cara atau alternatif menutup ladang-ladang minyak atau gas bumi, pabrik dan industri untuk sementara waktu, satu atau dua dasa warsa, mungkin dengan cara ini energi CO2 yang ada bisa dimaksimalkan pemanfaatannya dan laju fotosintesis meningkat dan bumi kembali sejuk dan hijau. Wallahu a’lam.
3. Perlu kita cermati terlebih dulu bahawCO2 di dalam udara, sebagian digunakan oleh mahluk hidup yaitu proses fotosintesa dan sebagian akan melarut dalam laut. Pada permukaan laut CO2 sebagian juga akan turun ke dasar laut, jumlahnya bergantung pada sifat permukaan air seperti keasaman, suhu, dan kadar garam. Di daerah panas seperti negara kita ini CO2 justru dibebaskan oleh laut dan menguap ke udara, karena itu mekanisme kesetimbangan berjalan lambat. Mekanisme ini diperlambat lagi oleh keberadaan jumlah kendaraan darat dan pesawat terbang yang sekonyong-konyong meningkat terus.
Perlu dicatat bahwa lautan mengandung 50 kali lebih banyak CO2 daripada yang ada di udara, karena itulah lautan lebih cenderung mengatur daur CO2 di udara. ( A. Tresna Sastrawijaya,M.Sc, h.88 )
Fitoplankton didalam lautan mampu memfotosintesis sekitar 40 milyar ton CO2 diubah menjadi senyawa karbon tiap tahunnya, namun tindakan manusia sendiri jua yang mengganggu kesetimbangan biologi geokimia ini, sehingga kemampuan fitoplankton ini tiada guna atau tidak seimbang bila dibandingkan dengan produk CO2 diatas bumi ini yang lebih dari 40 milyar ton setiap tahunnya.
Logika sederhana untuk mengimbangi laju kenaikan CO2 ini adalah dengan memperluas lahan hutan lindung,mengurangi pengejaran dan pembunuhan terhadap ikan-ikan di laut lepas, serta mengawasi jalur-jalur transportasi dan industri yang membawa dampak polusi CO2 bagi permukaan bumi ini. Sehingga kita asumsikan demikian, dengan kenaikan fotosintesis melalui hutan dan fitoplankton akan mengurangi CO2 lebih banyak, dan mengarah pada kesetimbangan.
